Cara Membuat Website   
 CaraMembuatWebsite.com    Forum     Ngobrol Yuk!     Contact Us   
Forum Cara Membuat Website › Maratus

Maratus

syahdianto Minggu, 27 November 2016 | 14:31 WIB
Saya Ingijn membuat Website, dan Ingin Belajar Lebih Tentang website
syahdianto Minggu, 27 November 2016 | 14:49 WIB
Malam semakin larut di Desa Hinas Kanan, Kecamatan Hantakan, Kabupaten Hulu Sungai Tengah
(HST), Kalimantan Selatan. Tengah malam di desa yang berjarak lebih dari 35 Km Kota
Barabai, ibu kota HST itu biasanya sunyi senyap. 

Namun malam itu berbeda. Suara katipung (gendang) dan keramaian sayup-sayup terdengar dari
Balai Panyatnyan Agung Mula Adat yang berada di tengah-tengah desa.



Semakin malam, irama katipung semakin rancak. Ditingkahi suara seorang Balian (tokoh agama
kepercayaan Kaharingan) yang terus bamamang (membaca mantera). Mantra yang di kumandangkan
serta aroma dupa yang di bakar, merambati hutan dan pegunungan Meratus, membuat malam
berselimutkan nuansa magis.



Di dalam Balai Adat yang berukuran sekitar 16 m x 8 m itu, lelaki dan perempuan masyarakat
adat Dayak Meratus batandik (menari) mengiringi lantunan suara katipung dan mantra yang
tak putus-putusnya. Batandik dengan langkah pendek dan menghentak, mereka mengelilingi
panjulang.



Panjulang adalah rangkaian janur yang di susun sedemikian rupa dan diletakkan di
tengah-tengah ruangan Balai Adat. Panjulang berukuran sekitar 2 m x 2 m dan tingginya
hampir menyentuh atap Balai Adat.



Masyarakat adat Dayak Meratus percaya, roh leluhur yang datang menghadiri prosesi malam
itu akan bersemayam di Panjulang. Karena itulah, di sekitar Panjulang diletakkan sesaji
untuk para dewa.



Prosesi yang di gelar masyarakat adat Dayak Meratus atau di kenal juga dengan nama Suku
Bukit saat itu adalah Aruh Balangatan. Sebuah ritual keagamaan sebagai perwujudan rasa
syukur atas hasil panen, keselamatan dan kesehatan yang diberikan oleh Nining Batara,
Tuhan Yang Maha Esa.



Aruh Balangatan memiliki banyak nama. Pada masyarakat adat Dayak Loksado di Kabupaten Hulu
Sungai Selatan, di kenal dengan nama Aruh Bawanang dan oleh masyarakat Banjar umumnya di
sebut Aruh Ganal.



Aruh Balangatan dilaksanakan selama tujuh hari tujuh malam. Setiap malam selama tujuh hari
itu, di mulai sejak pukul 22.00 mereka batandik diiringi tabuhan katipung dan suara Balian
yang terus bamamang, hingga pukul 09.00 pagi.



Bamamang dan batandik adalah prosesi yang dilakukan untuk memanggil roh leluhur. Meski
dilakukan semalam suntuk dan selama tujuh malam berturut-turut, tak nampak kelelahan di
raut wajah mereka. Karena di percaya, roh leluhur akan merasuki mereka yang batandik
sehingga tak terasa lelah.



Aruh Balangatan merupakan prosesi puncak dari rangkaian ritual penghormatan terhadap padi.
Padi bagi masyarakat adat Dayak Meratus adalah suci sehingga sejak sebelum di tanam hingga
usai panen terus dilakukan ritual-ritual adat untuk menghormati dan menjaga kesuciannya.



Legenda Padi



“Padi adalah makanan para Dewa yang di ambil para leluhur dari Khayangan (sorga/tempat
tinggal para Dewa). Karena itulah, harus senantiasa di jaga dan dibersihkan melalui
serangkaian upacara adat,” ujar tokoh masyarakat adat Dayak Meratus setempat, Mido
Basmi.



Sebelum mulai membuka huma, masyarakat adat Dayak Meratus terlebih dahulu melakukan
prosesi sederhana yang di sebut Katuban. Katuban adalah ritual yang dilakukan di rumah
sebelum berangkat ke hutan untuk mencari lokasi huma yang bagus. Melalui ritual itu,
diharapkan para leluhur akan memberikan petunjuk di mana huma harus di buka.



Setelah menemukan lokasi huma yang di rasa tepat, selanjutnya dilakukan ritual Batanuh,
yaitu meminta izin kepada para leluhur untuk membuka huma di sana. Ritual dilakukan dengan
mencari sebatang kayu hutan, memotongnya sepanjang satu depa, untuk kemudian dilakukan
pemujaan.



“Pemujaan terhadap batang kayu di sebut Tambang Kayu. Kami meminta kepada para arwah
leluhur agar memberikan tanda-tanda apakah lahan itu memang bagus untuk ditanami pagi atau
tidak,” Mido Basmi menjelaskan.



Bila kemudian setelah dilakukan pemujaan batang kayu itu ukurannya bertambah panjang, maka
lahan itu bagus untuk dijadikan huma. Namun sebaliknya, bila batang kayu menjadi lebih
pendek maka jangan sekali-kali membuka huma di lahan itu. Karena bilapun dipaksakan, maka
huma tidak akan menghasilkan serta si penggarap bisa terkena penyakit dan bala atau di
sebut dengan istilah katulahan (kualat).



Bila lahan yang di pilih ternyata bagus untuk huma, tidak serta merta dilakukan pembukaan
lahan. Sebelumnya dilakukan dahulu ritual Ilai, yaitu pembersihan lahan dengan
memperhatikan tanda-tanda alam. Beberapa pohon ada yang tidak boleh di tebang. seperti
rumpun bambu yang dibiarkan dan hanya dibersihkan sekitarnya saja.



Pembukaan lahan dengan cara pembakaran, di sebut Nyaro. Ritual itu dilakukan melalui
prosesi pemujaan terhadap Dewa Penguasa Api, sehingga pembakaran yang dilakukan tidak
merambah ke areal lain.



Pembakaran dilakukan dengan memperhatikan arah angin serta kemiringan lahan. Sebelum di
bakar, pohon dan dahan kering dikumpulkan di tengah ladang. Antara lokasi pembakaran
dengan hutan sekitarnya juga harus ada areal bebas, minimal 4 meter.



“Dengan segala ritual dan ketentuan adat yang kami anut dalam membuka lahan, sangat
kecil kemungkinan terjadinya kebakaran hutan. Karena itulah, kami sangat keberatan ketika
terjadi kabut asap maka masyarakat adat yang disalahkan,” katanya dengan nada keras.



Setelah huma di buka, ritual dilanjutkan dengan prosesi Aruh Manugal, yaitu penanaman padi
pertama. Selanjutnya, secara berkala dilakukan prosesi Pamataan, yaitu pemeliharaan dan
pembersihan huma dari tanaman pengganggu.



Semua prosesi itu dilakukan secara sederhana, hanya oleh pihak penggarap beserta
keluarganya saja. Namun semua prosesi itu dilakukan melalui sebuah ritual bernuansa magis
dengan pemujaan, menggunakan beragam media seperti wasi (besi, bisa berupa pisau atau
parang) dan minyak likat baburih (sari minyak kelapa) serta seperangkat sesaji.



Pengamat sosial budaya dan kemasyarakatan dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
(FISIP), Universitas Lambung Mangkurat (UNLAM) Banjarmasin, Taufik Arbain, menilai apa
yang dilakukan oleh masyarakat adat Dayak Meratus itu bukan sekedar ritual adat biasa.



“Itu merupakan kearifan lokal masyarakat setempat. Dimana mereka mampu secara bijak
mengelola alam dengan memperhatikan aspek kelestarian lingkungan. Sesuatu yang jarang bisa
dilakukan oleh masyarakat sekarang, yang justru mengaku modern,” ujarnya yang juga
seorang pengamat politik itu.



Terlepas dari semua bentuk sesajen dan mantra yang mengikuti setiap ritual, para leluhur
masyarakat adat Dayak Meratus yang mewariskan kearifan lokal tersebut, di pandang memiliki
visi jauh ke depan, hingga menembus zaman.



Kesadaran yang tinggi tentang arti pentingnya hutan dan lingkungan terhadap
keberlangsungan hidup, membuat mereka beradaptasi dan berkompromi tentang hal itu. Aspek
pamali (berdosa bila dilakukan) kemudian digunakan sebagai sarana kontrol sehingga
ketentuan yang di buat dan diberlakukan bisa dipatuhi.



Hal tersebut sejalan dengan kehidupan masyarakat adat Dayak Meratus yang lebih
mengedepankan hal-hal budaya dengan nilai-nilai rohaniah. Sehingga, ketika sebuah aturan
yang diberlakukan menyentuh ranah tersebut akan lebih mudah untuk dipatuhi dan effektif.



Bersentuhan Dengan Islam?



Rangkaian ritual dan prosesi adat tidak berhenti sampai di situ. Setelah padi yang di
tanam mulai berbuah, sebuah upacara penyambutan padi yang dinamakan Bapalas Umang di
gelar. Bapalas Umang merupakan ekspresi kegembiraan menyambut padi yang mulai
Ingin membahas topik ini? Tinggalkan komentar Anda:  
 
Nama:  
Website:  
Email:  
Nomor HP:  
Nama tokoh wayang:  gatot
 


Copyright © 2017 Cara Membuat Website   |   About   Privacy   Contact